KONGSINEWS.COM – Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida, mengatakan pada Senin bahwa pemerintah akan terus mendesak Beijing untuk membebaskan seorang staf Astellas Pharma yang ditahan di China, seiring memuncaknya kekhawatiran mengenai iklim bisnis di negeri Tirai Bambu.
Pemerintahan juga sudah membuat permohonan untuk kunjungan konsuler dengan staf yang ditahan tersebut, serta akan menyalurkan bantuan kepadanya, termasuk untuk keluarganya, kata PM Kishida dalam sebuah pertemuan dengan komite anggaran Dewan Penasihat Jepang.
Fumio memberikan pernyataan setelah kunjungan yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Jepang Yoshimasa Hayashi ke menteri luar negeri China pada Minggu waktu setempat, dan meminta China untuk segera membebaskan pria paruh baya yang ditahan itu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut menteri luar negeri Jepang, Tokyo belum mendapatkan penjelasan apapun dari Beijing mengenai penahanan itu.
Konten artikel ini dikutip dari media online Indonesiaraya.co.id, salah satu portal berita terbaik di Indonesia.
Karena tidak ada kejelasan atas penahanan itu, kalangan bisnis di Jepang menjadi tegang dan khawatir, kata seorang ekspat Jepang di China yang menolak disebutkan namanya.
“Ada perasaan cemas yang menghantui… Semua khawatir bahwa mereka bisa ditangkap kapan saja,” kata sumber tersebut kepada Reuters.”
Baca Juga:
Inisiatif Years of Culture Qatar Mengumumkan Negara Mitra Hingga Tahun 2030
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
“Dia menjelaskan perasaannya dan rekan-rekan sesama ekspat yang berkecamuk.
Beijing merespon permintaan Menlu Hayashi dengan mengatakan bahwa mereka akan ‘menangani kasus ini sesuai hukum yang berlaku’.
“Sampai kita tahu bagaimana dan mengapa orang ini ditahan, ada kemungkinan bahwa otoritas di sana bisa bilang bahwa hal apapun yang biasa kita lakukan sehari-hari ternyata ilegal,” ujar ekspat tersebut menambahkan.
Beberapa tahun terakhir ini, perusahaan Jepang di China kesulitan menavigasi perpindahan data, termasuk data produksi dari pabrik-pabriknya sendiri, data dari perbatasan atas dalih hukum keamanan nasional, yang mengatakan bahwa legalitas transfer data tersebut bersifat abu-abu.
Baca Juga:
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara
CGTN Luncurkan News Pal, Asisten Berita Berbasis AI
Debut Global All-New TIGGO7 dan TIGGOX7 di CHERY Brand Night, Usung Semangat “Together. For Family”
Dikutip dari Nikkei, staf Astella itu sudah bekerja di China lebih dari 20 tahun lamanya. Dia disebut sebagai eksekutif di Astellas oleh koran Yomiuri.
Astellas mengkonfirmasi kabar penahanan salah satu stafnya ke Reuters, tetapi tidak memberikan keterangan lebih lanjut.***








